OnlineBekasi.com – Polres Metro Bekasi Kota masih mendalami dugaan keterlibatan pelaku lain dalam kasus kekerasan seksual terhadap santriwati di sebuah pondok pesantren di wilayah Bekasi Selatan. Hingga kini, jumlah korban yang teridentifikasi telah melampaui 10 orang.
Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Putu Kholis Aryana mengatakan, penyidik telah mengamankan salah satu pimpinan pondok pesantren yang diduga memiliki peran signifikan dalam perkara tersebut.
“Untuk jumlah korban masih terus berkembang. Yang pasti lebih dari 10 ini masih kami kembangkan terus. Kemudian pelakunya juga lebih dari satu orang. Ini yang masih terus kami selidiki,” kata Putu dikutip Senin (12/10/2026).
Menurut Putu, polisi telah mengumpulkan bukti-bukti terkait dugaan kekerasan seksual tersebut.
Penyidik juga masih menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain yang diduga memiliki peran berbeda.
Sementara itu, pimpinan pondok pesantren yang telah diamankan menjadi salah satu fokus penyelidikan karena diduga memiliki peran penting dalam kasus tersebut.
“Sementara yang sudah kita amankan, yaitu pimpinan pondok tersebut. Karena perannya cukup signifikan. Dan kita sudah lakukan upaya paksa terhadap yang bersangkutan,” ujarnya.
Selain mengusut perkara, kepolisian turut memberikan perlindungan dan dukungan kepada para korban, termasuk penanganan terhadap trauma yang mereka alami.
Putu menyatakan pihaknya prihatin atas kejadian yang menimpa para santriwati. Ia memastikan penyelidikan akan terus dikembangkan untuk mengungkap perkara tersebut secara menyeluruh.
“Kita juga memberikan perlindungan dan dukungan yang diperlukan bagi para korban. Karena ini juga penting, penanganan kepada para korban yang mengalami trauma,” tuturnya.
Sebelumnya, polisi telah menetapkan MMH (28), pimpinan pondok pesantren di Bekasi Selatan, sebagai tersangka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap sejumlah santriwati.
Kasat Reserse PPA dan PPO Polres Metro Bekasi Kota Kompol Rosdiana Sirait mengatakan, tersangka diduga telah melakukan aksinya sejak 2023 dengan jumlah korban yang teridentifikasi lebih dari 10 orang.
“Tersangka telah mengenal salah satu korban sejak 2023 ketika korban masih menempuh pendidikan di pondok pesantren. Dalam keterangannya, korban juga menyebut MHH memiliki kedudukan sebagai ketua pondok,” ujar Rosdiana, Jumat.
