Infobekasi.co.id – Ribuan peserta dari berbagai satuan pendidikan di bawah naungan Perguruan Attaqwa mengikuti Jambore Akbar Attaqwa di Bumi Perkemahan Cibubur, 15-17 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-70 Attaqwa sekaligus momentum untuk menggaungkan kembali tiga pilar pendidikan yang diwariskan pendiri Attaqwa, KH Noer Alie: benar akidah dan akhlaknya, pintar wawasan keilmuannya, serta terampil menerapkan ilmu di tengah masyarakat.
Jambore akbar yang melibatkan anggota Pramuka golongan Siaga, Penggalang, dan Penegak tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarsekolah, tetapi juga wahana pembentukan karakter, kemandirian, kedisiplinan, dan kepemimpinan generasi muda.
Pimpinan Umum Perguruan Attaqwa, Dr. KH. Irfan Mas’ud, MA., yang bertindak sebagai pembina upacara pembukaan, menegaskan bahwa kegiatan jambore merupakan bagian dari ikhtiar meneruskan estafet perjuangan KH Noer Alie. Melalui pendidikan kepanduan, para peserta diharapkan tumbuh menjadi generasi tangguh yang mampu memberikan manfaat bagi umat dan bangsa.
“Jambore ini merupakan ikhtiar untuk melanjutkan estafet perjuangan KH Noer Alie. Adik-adik harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menempa diri agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan siap memberikan kebaikan bagi umat serta bangsa,” ujar KH. Irfan Mas’ud dalam sambutannya.
Ia berpesan agar para peserta menjadikan setiap kegiatan selama perkemahan sebagai proses pembelajaran, bukan sekadar rutinitas atau hiburan. Menurutnya, pengalaman yang diperoleh saat ini diharapkan menjadi bekal bagi generasi penerus Attaqwa untuk mengambil peran lebih besar dalam kehidupan masyarakat pada 20 hingga 30 tahun mendatang.
“Gunakan kesempatan ini untuk menempa diri. Jagalah akhlak, latih kedisiplinan, dan biasakan diri menjaga ketertiban serta keamanan lingkungan. Apa yang kalian pelajari hari ini mudah-mudahan menjadi bekal untuk membawa manfaat bagi Attaqwa, umat, dan bangsa pada masa depan,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Irfan Mas’ud juga mengingatkan para guru dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan agar senantiasa menjaga cita-cita pendidikan yang dirintis oleh KH Noer Alie. Ia menekankan bahwa seluruh sekolah di bawah Perguruan Attaqwa memiliki tanggung jawab bersama untuk meneruskan visi pendidikan sang pendiri, tanpa membedakan asal satuan pendidikan.
“Dari sekolah mana pun kita berasal, kita semua adalah satu keluarga besar Attaqwa. Karena itu, kita harus menjaga cita-cita pendidikan yang diwariskan KH Noer Alie. Pendidikan kita harus melahirkan generasi yang benar akidah dan akhlaknya, pintar wawasan keilmuannya, dan terampil menerapkan ilmunya di lingkungan masyarakat,” tegasnya.
Tiga pilar tersebut menjadi landasan penting dalam membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter keislaman dan kemampuan mengamalkan ilmu dalam kehidupan nyata.
Pesan tersebut terasa relevan di tengah tantangan pendidikan masa kini. Peserta didik tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga harus mempunyai landasan akidah yang kuat, akhlak yang baik, serta keterampilan untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitarnya.
Melalui jambore, nilai-nilai itu diupayakan hadir dalam pengalaman langsung. Kegiatan berkemah, latihan keterampilan, kerja sama kelompok, dan pembiasaan disiplin menjadi ruang pendidikan yang melengkapi proses belajar di sekolah.
Upacara pembukaan Jambore Akbar Attaqwa berlangsung meriah dengan berbagai penampilan yang melibatkan peserta didik. Acara dimeriahkan oleh aubade siswa, peragaan busana berbahan daur ulang, parade kontingen, serta drama kolosal yang dimainkan oleh perwakilan siswa di bawah arahan Zahari Aksam.
Drama kolosal tersebut mengangkat perjalanan sejarah Attaqwa, mulai dari masa awal perjuangan dan pendirian, berbagai tantangan yang dihadapi, hingga perkembangannya menjadi lembaga pendidikan yang tetap berdiri kokoh sampai sekarang.
Pementasan itu menjadi media untuk mengenalkan sejarah perjuangan Attaqwa kepada generasi muda sekaligus menanamkan kesadaran bahwa keberadaan lembaga pendidikan tersebut merupakan hasil perjuangan panjang, pengorbanan, dan pengabdian para pendahulu.
Pembukaan jambore juga dihadiri Pembina Yayasan Attaqwa yang tampil istimewa dengan mengenakan seragam Pramuka lengkap, jajaran pengurus Attaqwa, pimpinan lembaga, kepala sekolah, pejabat daerah, serta peserta didik dari berbagai satuan pendidikan.
Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan kebersamaan keluarga besar Attaqwa dalam menyukseskan kegiatan kepanduan yang menjadi bagian dari pendidikan karakter peserta didik.
Sementara itu, Sekretaris Perguruan Attaqwa, Dr. H. Khaerul Umam Noer, menjelaskan bahwa jambore dirancang sebagai ajang silaturahmi sekaligus sarana praktik kepramukaan. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan keterampilan, ketangkasan, kebersamaan, serta pengalaman belajar di luar lingkungan sekolah.
“Jambore ini bukan sekadar pertemuan anggota Pramuka dari berbagai sekolah Attaqwa. Kami ingin menjadikannya sebagai ruang silaturahmi, mempererat persaudaraan, dan memberikan pengalaman belajar yang nyata melalui kegiatan kepramukaan,” jelas Khaerul Umam Noer.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mendapatkan edukasi dan pengalaman melalui beragam kegiatan, antara lain keterampilan bertahan hidup (survival) di alam terbuka, mitigasi kebencanaan, olahraga air seperti mendayung, keterampilan sablon, serta berbagai aktivitas lain yang berkaitan dengan kepramukaan. (Humas/abeng)
Menurut Khaerul Umam, kegiatan tersebut dirancang agar peserta tidak hanya menerima materi secara teoretis, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan, membangun keberanian, dan belajar bekerja sama.
“Melalui kegiatan survival, mitigasi kebencanaan, olahraga air, keterampilan sablon, dan aktivitas lainnya, anak-anak belajar menghadapi tantangan, meningkatkan ketangkasan, serta mengembangkan kemandirian. Mereka juga belajar pentingnya kerja sama, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Ia berharap pengalaman selama jambore dapat menjadi bekal bagi peserta didik untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan, sekaligus memperkuat rasa persaudaraan di antara anggota Pramuka dari seluruh satuan pendidikan Attaqwa.
Penyelenggaraan Jambore Akbar Attaqwa dalam rangka Milad ke-70 menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan panjang pendidikan Attaqwa sekaligus menyiapkan generasi penerusnya. Semangat perjuangan KH Noer Alie diharapkan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan terus hidup dalam sikap, perilaku, dan pengabdian peserta didik.
Melalui kepanduan, peserta dilatih untuk mandiri, disiplin, tangguh, dan peduli terhadap lingkungan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang mampu menjaga tradisi sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Tiga pilar pendidikan: benar, pintar, dan terampil, kembali ditegaskan sebagai arah bersama bagi keluarga besar Perguruan Attaqwa. Harapannya, generasi yang ditempa hari ini kelak menjadi penerus perjuangan yang berakhlak, berilmu, cakap, serta mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, umat, dan bangsa.
