OnlineBekasi.com – Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi mencatat sebanyak 2.592 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan selama musim kemarau.
Luasan tersebut masih berpotensi bertambah mengingat puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga September 2026.
Sub Koordinator Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Dodo Hadi Triwardoyo, mengatakan pendataan terhadap lahan pertanian terdampak masih terus dilakukan karena kondisi kekeringan berpotensi meluas.
“Data ini bersifat sementara dan berpotensi meluas seiring siklus musim kemarau berlangsung. Kami masih terus mendata di lapangan,” kata Dodo kepada wartawan dikutip Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, kekeringan terjadi akibat berkurangnya pasokan air pada saluran irigasi.
Kondisi tersebut bahkan membuat sebagian petani terpaksa memanen padi lebih awal untuk mengurangi potensi kerugian.
Ia mencatat, kekeringan itu tersebar di sejumlah kecamatan antara lain di Kecamatan Pebayuran, Tambelang, Cabangbungin, Sukatani, dan Sukawangi yang didominasi sawah irigasi teknis.
Sementara di wilayah selatan, kekeringan terjadi di Kecamatan Serang Baru, Cibarusah, dan Bojongmangu yang sebagian besar merupakan sawah tadah hujan.
Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi pun telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, di antaranya memetakan wilayah rawan kekeringan, mendata ketersediaan pompa dan sumber air untuk irigasi darurat, serta menerbitkan surat imbauan kepada petani agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.
Pemerintah daerah juga menyiapkan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dengan target perlindungan seluas 1.500 hektare.
Selain itu, petani di wilayah yang kesulitan memperoleh pasokan air diimbau untuk sementara beralih menanam komoditas hortikultura yang membutuhkan air lebih sedikit.
Dinas Pertanian juga terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT) II, Kementerian Pekerjaan Umum, serta instansi terkait untuk mempercepat normalisasi saluran irigasi.
“Kami berharap langkah-langkah tersebut dapat meminimalkan luas lahan yang terdampak sekaligus menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau berlangsung agar petani-petani kita tetap dapat menggarap lahan secara optimal,” tutup Dodo.
