OnlineBekasi.com – Sebanyak kurang lebih 10 orang membuat laporan dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan jual-beli sembako murah yang dilakukan oleh seorang wanita berinisial NJ ke Polres Metro Bekasi Kota, Kamis (23/7/2026).
Kuasa hukum korban Wesley Sitohang mengatakan, dugaan penipuan itu dilakukan oleh NJ sejak Januari 2026. Saat awal transaksi, NJ memang mengirim sembako berupa minyak, gula, dan beras dengan harga di bawah pasaran.Namun seiring berjalannya waktu, barang tersebut tidak lagi diberikan kepada korban, sementara uang sudah diberikan ke NJ.
“Setelah empat kali pengiriman barang dilakukan tanpa kendala, memasuki transaksi kelima pengiriman mulai tidak berjalan. Terlapor beralasan barang belum turun PO dari pabrik atau kendaraan pengangkut rusak. Sampai saat ini barang yang sudah dibayarkan para korban tidak pernah dikirim,” ujar Wesley di Polres Metro Bekasi Kota, Kamis.
Wesley menjelaskan, pengiriman terakhir dilakukan NJ dilakukan pada 21 Juni 2026. Setelah itu, barang yang telah dibayarkan para korban, tidak lagi dikirim oleh terduga pelaku.
Saat ini, kata Wesley, ada tiga korban yang telah membuat laporan polisi. Mereka melaporkan dugaan tindak pidana penipuan dengan total kerugian mencapai kurang lebih Rp1 miliar.
“Korban yang telah kami data dan bersedia melapor mengalami kerugian sekitar Rp400 juta. Di luar itu, masih ada korban lain yang sudah kami temui namun belum bersedia membuat laporan dengan total kerugian sekitar Rp1 miliar,” katanya.
Wesley menyebut, berdasarkan pendataan sementara, jumlah korban diduga lebih dari 10 orang. Para korban tertarik melakukan transaksi karena harga sembako yang ditawarkan berada jauh di bawah harga pasar.
“Contohnya satu karton minyak gorengSunc dijual seharga Rp210 ribu, sedangkan harga pasaran sekitar Rp250 ribu. Selisih harga membuat korban tertarik karena masih bisa dijual kembali ke masyarakat dengan harga Rp220 ribu sampai Rp230 ribu dan tetap memperoleh keuntungan,” jelasnya.
Para korban mengetahui penawaran tersebut dari berbagai sumber, mulai dari keluarga, teman, hingga promosi melalui status WhatsApp milik terlapor. Sebagian korban juga mengenal NJ karena tinggal di wilayah Pengasinan.
“Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, mereka berusaha mencari keuntungan. Karena harga yang ditawarkan jauh di bawah harga pasar, mereka melihat ada peluang memperoleh margin keuntungan sehingga akhirnya tertarik membeli,” ujarnya.
Terkait keberadaan terlapor, Wesley mengatakan pihaknya meminta penyidik melakukan pendalaman, termasuk memeriksa sejumlah saksi yang mengetahui keberadaan NJ.
Menurutnya, rumah terlapor berada di rumah warisan orang tuanya yang juga ditempati ibu dan dua kakaknya. Salah satu kakak terlapor disebut ikut membantu mengantarkan barang kepada para korban.
“Kami meminta penyidik memanggil mereka sebagai saksi untuk menerangkan keberadaan terlapor saat ini,” tutup Wesley.
