Connect with us

Online Bekasi

Atlet Cheerleading Bekasi Borong Gelar Juara di Thailand Open 2026, Raih Prestasi di Kategori Individu dan Tim

Olahraga

Atlet Cheerleading Bekasi Borong Gelar Juara di Thailand Open 2026, Raih Prestasi di Kategori Individu dan Tim

OnlineBekasi.com – Kontingen cheerleading asal Kota Bekasi membawa pulang sejumlah gelar juara dari ajang Thailand Open 2026 yang berlangsung pada 21-25 Oktober 2026 lalu.

Tampil mewakili Indonesia, atlet binaan Rockstar Cheerleading tersebut meraih prestasi di sejumlah kategori urban cheerdance dan tim, termasuk beberapa gelar juara pertama.

Pelatih Rockstar Cheerleading Kota Bekasi Hendro Budianto, mengatakan sebanyak 21 atlet asal Bekasi ikut dalam kompetisi dan jadi bagian dari kontingen Indonesia.

“Dari Bekasi saja ada 21 anak. Kami berangkat membawa nama Indonesia bersama peserta dari daerah lain. Alhamdulillah, hasilnya cukup baik karena hampir semua kategori yang kami ikuti berhasil meraih juara,” kata Hendro, Minggu (2/11/2026).

Dalam kompetisi tersebut, atlet Bekasi meraih juara pertama pada kategori kelompok usia 3-6 tahun, junior 1, serta urban cheers double.

Sementara juara kedua diperoleh pada kategori urban cheerdance junior 2, kelompok usia 12-17 tahun, serta dua kategori tim, yakni kelompok usia paling kecil dan kelompok usia 12-17 tahun.

Thailand Open merupakan kompetisi tahunan yang diikuti enam negara, yaitu Thailand, Taiwan, Singapura, Jepang, Filipina, dan Indonesia.

Persaingan dengan atlet tuan rumah menjadi salah satu tantangan karena Thailand dinilai lebih dahulu mengembangkan kategori urban cheers dibandingkan Indonesia.

Pelatih Rockstar Cheerleading lainnya, Ranizha Ayu Rizky, mengatakan urban cheers di Indonesia baru mulai dikembangkan pada 2024.

Kategori ini merupakan genre baru dalam cheerleading yang menggabungkan gerakan cheerleading, hip-hop, dan gimnastik. Sementara cheer dance memadukan unsur cheerleading, balet, dan gimnastik.

“Kita di Indonesia masih tergolong baru, tetapi kemarin cheerleading, urban cheers, dan cheer dance yang kami ikuti semuanya berhasil meraih juara,” ujar Ranizha.

Menurut Ranizha, meskipun memiliki unsur tarian, urban cheers dan cheer dance tetap mengacu pada aturan dasar cheerleading.

Peserta harus menguasai gerakan wajib yang ditentukan dalam koreografi sehingga kemampuan menari saja belum cukup untuk mengikuti kompetisi.

Persiapan atlet pun membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Penyusunan konsep koreografi biasanya dimulai tiga hingga empat bulan sebelum perlombaan.

Namun, penguasaan teknik seperti headstand, headspin, cartwheel, dan back walkover bisa memerlukan latihan hingga satu tahun, bergantung pada kemampuan masing-masing anak.

Tantangan tersebut semakin besar ketika melatih kelompok usia dini, terutama anak-anak berusia 3-6 tahun. Selain mengajarkan teknik, pelatih harus menjaga suasana hati mereka agar tetap nyaman mengikuti latihan.

Gerakan yang melibatkan kepala dan leher juga harus diberikan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi fisik anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Ranizha mengatakan, proses latihan tidak bisa dipaksakan hanya untuk mengejar target kompetisi.

Setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda sehingga pelatih harus memastikan kesiapan teknik dan fisik sebelum menentukan siapa yang layak diberangkatkan.

“Untuk anak-anak kecil, terutama gerakan yang melibatkan kepala dan leher, kami harus benar-benar hati-hati. Prosesnya tidak bisa cepat karena keselamatan mereka yang paling utama,” jelasnya.

Saat ini, Rockstar Cheerleading memiliki sekitar 200 peserta latihan. Namun, atlet yang dikirim ke kompetisi dipilih melalui audisi dengan mempertimbangkan penguasaan teknik dan kesiapan masing-masing.

Pelatih tidak akan memaksakan peserta yang belum mampu melakukan gerakan tertentu karena berisiko mengalami cedera.

Selain kemampuan teknis, pendampingan orang tua juga menjadi bagian dari persiapan atlet usia dini. Setiap anak diminta membawa satu orang pendamping untuk membantu menjaga kondisi emosional selama kompetisi.

Di sisi lain, pengalaman bertanding juga menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar mandiri, mulai dari mengganti sepatu hingga menyiapkan perlengkapan sendiri.

Ranizha menyebut jumlah pelatih bersertifikasi untuk kategori tersebut di Indonesia baru sekitar 14 orang sejak 2024.

Karena itu, Rockstar Cheerleading berupaya memperluas pengenalan urban cheers agar semakin banyak atlet dan klub yang mengembangkan kategori tersebut.

Setelah prestasi di Thailand Open, Rockstar Cheerleading akan mempersiapkan atlet untuk mengikuti Kejuaraan Daerah (Kejurda) dan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) yang digelar setiap tahun.

Hasil Kejurnas menjadi jalur seleksi bagi atlet yang berkesempatan mewakili Indonesia dalam Cheerleading World Championship (CWC).

Hendro menjelaskan, kesempatan tampil di kejuaraan dunia tidak diberikan secara langsung kepada seluruh peserta. Atlet harus lebih dahulu melewati seleksi melalui Kejurnas, termasuk bersaing di hadapan juri yang biasanya didatangkan dari luar negeri.

“Juara dari Kejurnas nantinya yang berhak berangkat ke CWC. Jadi kami akan terus mempersiapkan atlet dan mengembangkan kemampuan mereka agar bisa bersaing di level yang lebih tinggi,” tutup Hendro.

Klik untuk komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top